Header Ads

April Fuller : Islam Paling Mudah Dipahami Akal Rasional




April Fuller tertarik pada Islam karena, baginya, agama ini paling mudah dipahami akal rasional.  "Saya tumbuh besar di lingkungan yang cukup agamais. Jadi, saya percaya Tuhan pasti ada. Kemudian, saya selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dan akhirnya saya sadari, saya kurang cocok dengan Sekte Baptist," kenang dia.

Pada semester kedua, Fuller berkenalan dengan seorang mahasiswa Muslim, Ahmad (bukan nama sebenarnya), melalui sahabatnya. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah akrab. Dalam beberapa kesempatan, Ahmad banyak bercerita tentang Islam.

"Saya banyak mengobrol dengannya (Ahmad). Dan, dia semakin antusias menjelaskan Islam. Saya kira, agama ini cukup masuk akal, kata Fuller.

Dalam Islam, pemeluknya memakai rasio mereka. "Sering kali ketika mendebat tentang Kristen, saya disuruh diam. Dengan Islam, mereka (pemeluk Islam) membolehkan kita untuk meragukannya," kata dia.

Fuller mengutip penjelasan dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) yang pernah diperolehnya.

Orang Islam percaya pada Allah yang Maha Esa. Allah, Zat satu-satunya yang pantas disembah. Orang Islam juga mengimani hari akhir dan tanggung jawab orang per orang atas masing-masing perbuatan.

Ada sekitar tujuh juta Muslim di Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, Islam merupakan agama kedua terbesar di dunia dan yang paling pesat perkembangannya secara global. Ada sekitar empat ribu Muslim di sekitar North Carolina.

Sesudah menjadi Muslim, April bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampus Universitas Mississipi, tempatnya belajar. Dia kemudian menjadi ketua divisi perempuan di asosiasi tersebut. Bagi April, dunia kampus merupakan tempatnya yang paling optimal untuk mengaktualisasi diri.

Saya sangat sayang dengan semua kawan saya. Mereka begitu memahami saya. Sejak saya bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim, saya menjadi belajar banyak tentang Islam.

Sejak memeluk Islam, April berhenti mengonsumsi minuman beralkohol. Dia juga mulai mengenakan hijab, namun tetap menjadikannya modis. Baginya, memenuhi perintah agama tidak harus menjadikan seseorang ketinggalan zaman.

"Saya menemukan kedamaian, sesuatu yang tidak saya peroleh sebelum menjadi Muslim. Saya jadi sadar siapa saya, apa tujuan hidup saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengerti arti eksistensi diri," kenangnya.

Mahasiswa sastra Inggris ini mengumumkan keislamannya dalam akun Facebook-nya. Tidak lama kemudian, dia kebanjiran surat elektronik dari para sahabat dan temannya. Nada suratnya beragam, mulai dari kecaman hingga apresiasi.

Fuller menyadari, sikapnya memeluk Islam pasti memantik banyak tanggapan. Dari teman-teman sebaya, dia kebanyakan mendapatkan respons positif. Namun, dari orang-orang tua, tanggapannya sedikit berbeda. Salah satunya, guru spiritual Fuller pada masa kanak-kanaknya dulu.

"Mengapa pula saya berharap lagi. Kini, saya orang kafir bagimu. Saya pun musuh bagimu. Sangat memalukan, kamu telah berpaling dari cinta Tuhan dan memilih nabi yang salah, yang mempropagandakan kebencian, kata gurunya itu.

Selain itu, ada pula jemaat gereja tempat Fuller terdaftar. Hatiku remuk karena kamu, figur remaja yang saya kagumi, justru berpindah agama.

Adapun surat yang bernada gembira datang dari sahabat Fuller, Ila (bukan nama sebenarnya). Keduanya memang telah bersahabat sejak kecil.

"Aku tahu, banyak orang dan mereka yang mengaku kawan menudingmu karena pilihanmu ini. Aku harap kamu baik-baik saja, sayang," katanya.

Fuller memiliki paman yang seorang pastor gereja Southern Baptist di Raleigh, kota yang berpenduduk sekitar 1.500 jiwa. Sekte tersebut merupakan yang terbesar di negara-bagian North Carolina.

Keluarga Fuller termasuk pemeluk Kristen yang taat beribadah. Sebagai contoh, kakeknya begitu kecewa dengan keputusan Fuller memeluk Islam.

Beberapa hari setelah aku mualaf, dia (kakek Fuller) mengejekku dengan tuduhan teroris, 'bangunan apa yang mau kau ledakkan nanti.'

Berbeda dengan kakeknya, ibunya cukup memahami keputusan Fuller.

"Ibuku selalu mendukungku agar mendengarkan kata hati. Jadi, tak ada bedanya (sikap ibu) ketika aku memeluk Islam. Ibu kemudian menyesuaikan diri dengan kepercayaanku kini. Mulai dari makanan dan lain-lainnya. Ibu selalu di sampingku, menolongku dengan segala upaya," kata dia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.